ElektroIndonesia.Com
Jumat, 25 Mei 2018
-- Komputer
  Julukan Super Komputer Tercepat Sejagad Kini Milik China
  ME310 Hasilkan Konsep Laptop Dengan Desain Ramah Lingkungan
  Anton Supercomputer - Mesin simulasi gerakan protein dengan besaran milidetik
  Intel Kembangkan Komputer Pembaca Pikiran
  Perancangan Aplikasi Persedian Barang pada Personal Digital Assistant (PDA) dengan Menggunakan NS-Basic
-- Komunikasi
  Musik dan Warna Bisa Cerdaskan Anak
  Menelepon Kini Bisa Dilakukan via Gmail
  Pengenalan untuk Next Generation Networks
  Elemen Perancangan Sistem Kabel Coaxial pada pada Jaringan HFC
   Perencanaan Daya Pancar BTS untuk Sistem GSM pada Jalur Kereta Api Jakarta-Bandung
-- Kontrol/Kendali
  Turbin Angin Masa Depan Harus Mampu Terbang
  Sebuah pengalaman dalam upaya mewujudkan capacity building di bidang Sistem Instrumentasi dan Kendali reaktor nuklir
  Sebuah pengalaman dalam upaya mewujudkan capacity building di bidang Sistem Instrumentasi dan Kendali reaktor nuklir
  Pengaturan Lampu Lalulintas Berbasis Fuzzy Logic
  Pengaturan Lampu Lalulintas Berbasis Fuzzy Logic
Turbin Angin Masa Depan Harus Mampu Terbang
2011-01-17

Keterbatasan lahan merupakan salah satu kendala implementasi pembangkit listrik tenaga angin skala besar. Ditambah lagi dengan pemanasan global yang berdampak pada menurunnya kecepatan angin, maka potensi energi angin tidak akan maksimal untuk dimanfaatkan.

Solusi yang bisa dilakukan adalah mulai mengembangkan pembangkit listrik tenaga angin yang tidak lagi ditempatkan di atas dataran terbuka, melainkan diterbangkan pada ketinggian tertentu.

Langkah tersebut sudah dilakukan oleh beberapa perusahaan dan ilmuwan yang telah mengembangkan berbagai konsep turbin angin ''terbang'' yang menggunakan berbagai metode, mulai dari layang-layang hingga balon udara. Beberapa diantaranya adalah Magenn Power, Skywindpower, Joby Energy, TWIND dan konsep turbin angin GEDAYC.

Visi tentang turbin angin ''terbang'' tersebut juga dipertegas oleh seorang ilmuwan NASA, Mark Moore, yang menyatakan bahwa meski turbin angin jenis itu akan menimbulkan masalah baru bagi dunia penerbangan --setidaknya diperlukan 3 kilometer zone tanpa penerbangan--, tetapi dari sisi lingkungan, tidak ada lahan yang dikorbankan untuk menghasilkan energi listrik. Selain itu, semakin tinggi kecepatan angin cenderung lebih besar dan konstan. Produksi energinya bisa mencapai 27 kali lebih besar jika dibandingkan dengan turbin angin yang dipancang di permukaan daratan atau lautan.

Melalui riset yang akan dilakukannya dengan dana sebesar 100.000 US dolar, Moore bersama timnya akan mengevaluasi bagaimana ladang turbin angin ''terbang'' bekerja dan pengaruhnya terhadap zone angkasa yang juga digunakan oleh industri penerbangan.

Oleh : wedha augusta
Sumber : planethijau.com

Artikel Terkini :
Elektro --
Sensor CO2 baru yang sederhana  
Operasional Seluler Habiskan 70 Juta Liter Solar  
Teknologi Prosesor Berbasis Molekul DNA  
Penyisipan Informasi Data Digital Pada Siaran AM  
Perancangan Layout IC CMOS Multivibrator Monostabil Menggunakan Program LASI  
Energi --
Scenedesmus, Sumber Bahan Bakar Bio Sekaligus Penetralisir Air Limbah  
21,3 GigaWatt Energi Bersih Dari Hancurnya Ekosistem di hasilkan Cina  
Selangkah Lagi Bensin Sintetis Tanpa Emisi Karbon Siap Gantikan Bensin Berbasis Minyak Bumi  
Baterai Lithium Ion Yang ''Terinfeksi'' Virus, Menyimpan Energi 10 Kali Lebih Banyak  
Cina Akan Bangun Pembangkit Listrik BioGas Terbesar Pertama di Dunia  
Instrumentasi --
BMW Siap Produksi Mobil Ramah Lingkungan Seri i3 dan i8  
Lemari Pendingin Tanpa Listrik Pertahankan Suhu Selama 10 Hari  
Baju Pengganti Baterai  
Seoul Akan Operasikan Bis Listrik di Rute Komersial  
Honda Luncurkan Program Untuk Mengenali Berbagai Aspek Dalam Teknologi Mobil Listrik  
Komputer    Komunikasi    Kontrol    Elektro    Energi    Instrumentasi
Copyright 2006